Movie Review: Wonder Woman

Category: Reviews 32 2

Salah satu aksi Gal Gadot saat menjadi Wonder Woman. Clay Enos/Rock Paper Photo

Di balik perempuan kuat pasti ada cinta yang hebat

Saking hebatnya Wonder Woman, ia bukan hanya menyelamatkan dunia seperti yang terlihat di filmnya, ia juga menghapus stigma buruk yang melekat pada film-film adaptasi komik dari penerbit DC dan film pahlawan super perempuan. Gal Gadot menjelma menjadi idola dengan pesonanya yang tulus.

Sudah lama rasanya sejak Christopher Nolan mengenalkan konsep film pahlawan super yang harus gelap, bergulat dengan kenyataan dan kepribadian yang tersiksa. Sejak itu setiap adaptasi komik mengikuti jalan tersebut dan berlomba-lomba jadi depresif. Sekarang ketika dunia makin suram saja, Wonder Woman seperti mengajak lagi penonton melihat ke hati terdalam: mungkin cinta yang kita butuhkan.

Wonder Woman versi Gal Gadot tak menjadi kuat dengan cara yang banyak ditempuh banyak pahlawan super lainnya. Meski berasal dari tempat asing seperti Superman, kemampuannya mesti ditempa dulu oleh guru dan ibunya yang keras. Walau punya peralatan tempur yang canggih seperti Batman, ia mesti mendapatkannya dengan mencuri. Bisa dibilang, pemicu utamanya adalah keberanian dan hati yang besar.

Di film ini, Wonder Woman adalah perempuan polos dengan pikiran sederhana: ia ditakdirkan untuk menghentikan Dewa Perang, Ares dan kalau mitos yang ibunya ceritakan benar, dunia bakal jadi tempat yang lebih baik. Gal Gadot membawakannya dengan kelembutan yang berpadu dengan keteguhan yang dikombinasikan dengan pas. Penonton bisa melihat tak ada kebencian di dirinya, hanya keinginan utuh untuk berbuat baik. Pahlawan super yang jarang ada dan memang dibutuhkan di situasi dunia yang makin genting ini.

Kisahnya sendiri ditulis semacam cerita komik. Wonder Woman datang, menghajar musuh Jerman, lalu memenangkan peperangan. Tak ada subteks berlebihan. Jika film ini ditulis tahun '80-an dan baru dimunculkan sekarang, tak akan ada perbedaan yang mencolok.

Tuntutan penonton yang menginginkan agar film-film adaptasi DC lebih ringan di sini berusaha dijawab. Ia adalah seorang kuat yang harus menghadapi kekikukan karena dunia di luar pulaunya menjalankan hidup yang aneh baginya. Laki-laki untuk memuaskan perempuan? Pakaian-pakaian konyol? Orang-orang tua berpangkat tinggi yang tak berperang bersama anak buahnya? Perspektifnya yang berbeda ini menantang pemahaman ulang manusia akan dunia yang ditempati. Tapi tenang saja, filmnya tak terlalu menuntut penonton berpikir terlalu kritis. Ini hiburan belaka.

Karakter-karakter pendamping Wonder Woman dihadirkan dengan menggelitik. Seorang indian, seorang aktor, dan seorang Inggris pemabuk. Chris Pine menjadi Steve Trevor yang dimaksudkan menjadi pendukung yang bisa menyeimbangkan Wonder Woman yang keras kepala. Ia juga tak punya misi apa-apa, hanya ingin berperan sedikit saja dalam keselamatan dunia.

Sebagai film yang berdiri sendiri tanpa perlu melayani semesta Justice League, Wonder Woman menjalankan tugasnya dengan baik. Ia bisa jadi keduanya: pahlawan yang dibutuhkan dan pahlawan yang pantas untuk siapapun.

Source link

loading...

Related Articles

2 thoughts on “Movie Review: Wonder Woman

  1. snydez

    eheh, gue lebih terpukau sama pilot serial tv nya.

    bener, kayanya ini film ringan

    Reply
    1. Sammy

      iya ratingnya aja diturunin biar bisa dilihat anak remaja, battle scene juga ga ada yang explicit

      Reply

Leave a Reply