Menghidupkan kembali Acer Aspire One ZG5 (AOA110)

Acer Aspire One ZG5 (AOA110) Blue
Acer Aspire One ZG5 (AOA110) Blue
Acer Aspire One ZG5 (AOA110) Blue

Baru sempet posting, dan baru sempet beresin gadget ini. Jadi ceritanya gue punya laptop/netbook 8.9 inch ini dari tahun 2008 (kalo ga salah) pas baru-baru aja release, ga butuh lama gue bela-belain gesek kartu kredit untuk dapetin gadget ini. Jadilah ini netbook/laptop yang pertama gue beli. Model yang pertama ini masih pake SSD 8gb, RAM 1gb (512mb built-in). Kalau mau tahu review & spec lengkap bisa cek kesini: Short Review Acer Aspire One AOA110 / A110 Netbook. Harganya? 4 juta rupiah saja (tahun 2008), sekarang untuk netbook diatas kelasnya ini bisa didapat “hanya” dengan harga 2,5 juta rupiah saja.

Gatel dan ga butuh waktu lama untuk dibongkar (void warranty), upgrade pakai HDD Toshiba PATA/ZIF 60gb buat iPod yang kebetulan interface konektornya sama (lihat tutorialnya disini: Modding the Acer Aspire One – hard drive), terus upgrade RAM jadi 1.5gb (katanya bios max detect cuma 2gb, karena 512mb built in, yang bisa diganti cuma 1 slot 512mb jadi 1gb). Ganti OS bawaan (Linpus Linux) pakai Win XP Lite, trus begitu keluar Win 7 langsung ganti pakai Win 7 Ultimate.

Selang beberapa tahun kemudian, gue beli laptop baru notebook 12 inch (ceritanya lain kali deh, sekarang ngebahas yang netbook ini dulu). Berhubung sepupu gue lagi butuh laptop buat tugas-tugas sekolah, akhirnya netbook ini dipinjam, setelah lebih dulu ganti batre (upgrade 2cell ke 6 cell), dan ganti keyboard.

[alert-announce]Catatan: Kecuali modul RAM, semua komponen pengganti (HDD, 6 cell Battery, Keyboard) gue beli dari e-Bay. Barangnya masih jarang di toko-toko lokal, kalaupun ada, selisih harganya ga masuk akal gan![/alert-announce]

Sampai akhirnya netbook ini balik lagi ketangan, tapi berhubung kerjaan pake laptop kantor plus laptop sendiri 12″ yang lebih kuat prosesornya, akhirnya netbook ini nganggur berdebu bahkan terakhir iseng update bios malah matot (dead bios). Baru beberapa minggu terakhir, saking suntuknya sama kerjaan, kepikiran untuk menghidupkan lagi netbook ini. Dengan batre 6 cell yang bisa tahan 2-4 jam untuk sekedar online browsing, messaging, dan simple office task.

Langkah pertama yang gue kerjakan adalah memperbaiki bios yang mati. Mengikuti cara recovery bios gak ada yang berhasil, bawa ke tukang servis, termasuk ke servis resmi Acer juga ga bisa. Pilihan satu-satunya adalah ganti chip bios baru. Untuk keperluan ini, gak lain harapannya cuma e-Bay, chip bios spesifik ini dijual ga nyampe 100rb sebijinya, buat cadangan gue pesen 2 biji. Begitu sampe, ga tunggu waktu lama langsung bongkar netbook. Berhubung gue ga terlalu jago pake solderan, apalagi yg sekecil ini, gue minta tolong tukang servis hp di toko sebelah. Gue cuma tunjukin lokasi chip sama penggantinya, jebret-jebret, ga nyampe 5 menit udah kesolder. Pasang batre, coba boot, It’s ALIVE! (Frankenstein style).

Langkah kedua, pilih OS yang mau dipakai. Untuk intermediate office task, pilihan tetap pakai Windows. Yang sudah terpasang Windows 7, dengan sedikit tweak performance, sebenernya lumayan masih bisa diandalkan. Tapi melihat review windows 8 di netbook, ternyata banyak yang rekomen untuk pakai Windows 8, terutama karena penggunaan RAM yang lebih irit, dan tampilan yang tanpa Aero malah bikin performa lebih bagus, booting time juga lebih cepat, diluar kenyataan bahwa Metro apps butuh resolusi 1024×768, yang mana gue juga ga butuh-butuh banget, malah sebagian besar gue uninstall. Meskipun kalau mau, ada trik untuk bisa menjalankan aplikasi-aplikasi Metro dengan downscaling resolusi jadi 1024×768, tapi konsekuensinya tampilan desktop gepeng. So, akhirnya pilihan OS utama pakai Windows 8.1 (32 bit, secara prosesor Intel Atom geto loh…).

Langkah ketiga, pilih alternatif OS untuk sekedar simple task, pilihannya antara Linux dan Mac OS X (Hackintosh). Yang ada dipikiran gue, Why not both?. Jadilah akhirnya bereksperimen dengan triple booting Windows-Mac-Linux. Untuk Linux ga ada masalah, distro pilihan gue Ubuntu based yang simple dan populer. Tinggal seleranya aja mau yang mana. Beberapa OS yang udah gue coba antara lain: Elementary OS, Linux Mint (Cinnamon, Mate, Kde, Xfce), Lubuntu, Xubuntu, Peppermint OS, LXLE, dan Deepin Linux. Setelah berkali-kali test instal, cek online review, pilihan akhirnya jatuh ke Xubuntu. Alasannya? Performance dan penampilan. Sendainya prosesor mendukung, gue pasti memilih antara Elementary OS atau Deepin Linux yang punya tampilan oke banget. Sayangnya Elementary OS dipakai di Intel Atom jadi nge-lag, Deepin Linux apalagi. Performance paling bagus ditunjukan oleh Lubuntu, Peppermint OS, dan LXLE, secara pemakaian desktop manager LXDE sangat ringan, cuma nggak sreg aja. Linux Mint yang pertama kali gue coba, Cinnamon dan Mate menarik tapi agak berat meski ga seberat Elementary OS, hingga akhirnya sisa 2 pilihan, Linux Mint XFCE atau Xubuntu, dua-duanya pakai Xfce desktop, performance lebih baik, tampilan juga lumayan. Jadi, karena selera, akhirnya untuk Linux gue pilih Xubuntu.

Tapi, diantaranya itu gue nyoba install Mac OS X di netbook ini, keunggulan Mac OS selain tampilannya yang ciamik, performance yang baik, aplikasinya juga banyak. Googling kesana kemari, Intel Atom cuma mentok bisa dipakai sampai Mac OS 10.6.8 (Snow Leopard) dengan custom kernel. Coba install pakai iAtkos S3, atau Retail DVD (patched), update/patch driver (kalau di Mac istilahnya Kexts), hampir semua jalan, kecuali Wifi karena pakai chipset Atheros yang nggak temenan banget sama Mac.

Chameleon Bootloader Mac OS X Boot splash screen Mac OS X About info

[alert-success]Well done! Acer Aspire One ZG5 AOA110 8.9″ netbook triple booting Windows-Mac OS-Linux. Screenshot booting menggunakan Chameleon bootloader.[/alert-success]

Cuma sayang sekali, Hackintosh ini punya kelemahan terutama di power management, fungsi sleep/suspend tidak berjalan, fan control juga ga berfungsi baik, jadi hasilnya adalah Mac OS X yang makan tenaga, nggak sesuai untuk netbook portable yang mengandalkan batre. Pertimbangan yang kedua adalah kapasitas harddisk yang terbatas, 60gb untuk Windows 30gb, Mac OS 10gb, sisanya Linux+Swap, jadinya minim banget untuk aplikasi+data. So dengan pertimbangan tersebut, akhirnya gue putuskan untuk membuang Mac, dan hanya menggunakan Windows+Linux untuk netbook ini.

Demikianlah ceritanya bagaimana gue menghidupkan kembali netbook Acer Aspire One 8.9″ untuk bisa dipakai sehari-hari mengerjakan tugas-tugas sederhana dimanapun berada. Mungkin nanti kalau perlu gue post lagi untuk review/tutorial instalasi Windows/Mac/Linux di netbook yang mudah berikut dual/triple boot prosesnya.

Kalau gue ga males yah…

You may also like

Leave a Reply