Skip to: Site menu | Main content

Life in PseudoReality

"Beloved, let us love one another: for love is of God; and every one that loveth is born of God and knoweth God ... Beloved, if God so loved us, we ought also to love one another, God dwelleth in us, and His love is perfected in us."
1 John 4:7, 11-12

Mudik lagi (setelah 4 tahun)

Gramps and nephewsSeingatku, terakhir aku pulang kampung bareng keluarga adalah 4 tahun lalu, blom married, dan calon kakak ipar-ku pun masih akrab dengan nyokap/bokap selayaknya camer dan caman (loh… emang sekarang knapa?). Sudahlah.. ga usah diperpanjang, capek ngebahasnya. Waktu itu juga masih ada nenek dari bokap, jadi rute pulang kampung selalu ke Sragen dulu (tempat nyokap), berapa hari disitu trus ke Wonogiri (tempat nyokap), baru balik ke Jakarta. Lebih enak dan mudah balik dari Wonogiri ke Jakarta karena banyak PO dan pool  bis yang melayani rute ke Jakarta. Bahkan bis-bisnya juga banyak yang lewat depan rumah, jadi tinggal nunggu aja pasti ada yang bersedia "ngangkut" sampe Jakarta. Sementara klo dari Sragen harus jalan lumayan jauh (kalau nggak ada motor atau mobil angkutan) dari rumah ke jalan besar untuk naik bis umum ke terminal.

Sebulan persis setelah married, sempat pulang kampung bareng istri karena nenek dari bokapMom, Dad, and Gramps mertua-ku meninggal. 2 minggu setelahnya, giliran nenek dari bokap yang meninggal. Sempet pulang juga, tapi cuma nginep semalem karena harus kerja. Setelah itu, aku ga pernah lagi pulang kampung buat nengokin nenek/kakek dari nyokap (karena dari bokap udah ga ada semua).

Tahun ini, nyokap ngajakin pulang kampung karena nenek udah nanyain aku terus. Terakhir ketemu adalah saat aku married, beliau bela-belain dateng meskipun ngakunya udah ga kuat lagi klo harus ke Jakarta naik umum. Sayangnya, kepulangan kali ini aku ga membawa istri, padahal aku belum sempat ngajak istriku ke Sragen…

Anyway, kemajuan didesa emang beda dengan dikota. Dalam 4 tahun, nggak banyak yang berubah, paling-paling usaha oom-ku yang beternak ayam petelur kecil-kecilan yang sekarang ludes karena wabah flu burung, atau hasil sawah yang makin berkurang karena ga ada lagi orang yang mau kerja disawah, lebih suka bikin batu bata yang hasilnya bisa dinikmati dalam 1 bulan tapi merusak lahan sawah. Atau separuh tanah bagian adik dari nenek/kakek yang terpaksa dijual maksudnya untuk bekal usaha masa tua tapi akhirnya habis ga jelas buat ngurusin anak dan mantunya.

Kesempatan pulang ini juga, ibuku akhirnya membuka semua sejarah masa lalu dari kakek kandung-ku (ya, kakek yang sekarang adalah bapak tiri dari ibuku, jadi bukan kakek kandung), mampir ke makam-nya, mengunjungi adik-adik dari kakek kandung, termasuk mengunjungi adik dari kakek yang tega mengambil semua harta hak waris yang seharusnya dimiliki nenek, ibuku dan adik kandungnya sebagai istri dan anak-anak yang sah. Aku udah tau semua ini, tapi ternyata bahkan adik ibuku yang se-bapak pun blom tau, apalagi kakak dan adik-ku.

Yah.. banyak yang kulihat dan kurasakan dalam mudik kali ini. Tapi aku tetap merasakan ada sesuatu yang kurang lengkap. Bahkan bisikan kangen dari seseorang kembalinya di Jakarta sana hanya mampu mengisi sedikit cawan yang kosong.

One Response to “Mudik lagi (setelah 4 tahun)”

  1. mm Says:

    wonogiri ? sragen ?
    wah koq gk mampir ke madiun …
    ntar aku traktir nasi pecel … heueheueh

Leave a Reply